KASIH VERSI NATAL

Seorang penulis memarafrasekan 1 Korintus 13 untuk menjelang momen
Natal, demikian: “Jika saya menghias rumah begitu sempurna, dengan
rangkaian lampu dan bola-bola, tetapi tidak menun-jukkan kasih, maka
saya hanya pendekor ruangan. Jika saya bersusah payah membuat kue
Natal, menyiapkan hidangan Natal istimewa, tetapi tidak menunjukkan
kasih, maka saya ini sekadar koki yang bekerja keras. Jika saya
menyanyi di panti-panti dan memberi sumbangan Natal, tetapi tidak
melakukannya dengan kasih, maka itu tak ada gunanya sama sekali.

“Kasih membuat seseorang berhenti memasak, agar ia dapat memeluk
anaknya. Kasih mengesampingkan pekerjaan mendekor rumah agar ia
dapat mencium suaminya. Kasih tetap sabar, meski seseorang sedang
sibuk dan lelah. Kasih tidak cemburu kepada tetangga yang telah
menata keramik dan taplak bertema Natal. Kasih tidak menghardik
anak-anak agar tidak ribut, tetapi justru mensyukuri keberadaan
mereka. Kasih tidak hanya memberi kepada mereka yang dapat membalas,
tetapi justru bersukacita memberi kepada mereka yang tak mampu
membalas. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, menahan segala sesuatu. Kasih tak
pernah gagal. Video games akan berlalu, kalung mutiara akan hilang,
klub olahraga akan berakhir, tetapi kasih tak berkesudahan.”

Masa Natal adalah puncak kegembiraan, sekaligus puncak kesibukan
bagi hampir setiap umat kristiani. Namun, jangan sampai kita
kehilangan kasih, agar dengannya kita mampu bersikap benar dan turut
menghadirkan damai di bumi –AW

SEMPURNAKAN KEINDAHAN NATAL DENGAN MEMBUBUHKAN KASIH
PADA SETIAP KESIBUKAN DAN PERAYAAN

(diambil dari milis i-kan binaguru)